Breaking News

Gubuk di ujung kuburan

Aku bernama Dani, Waktu itu saya Kelas 1 SMA,dan kebetulan harus pulang larut malam dikarenakan ada tugas kelompok yang belum dikerjakan , jarak sekolah ke rumah lumayan jauh,dan jalan paling cepat harus melewati pinggir kompleks kuburan yang konon warga sering bilang kompleks itu angker dan menyimpan cerita mistis, tapi saya kurang percaya soal hal hal mistis.








Malam itu langit gelap pekat, tidak ada bintang sama sekali. Angin bertiup kencang, menggoyangkan pepohonan di pinggir jalan sampai suaranya seperti orang berbisik. Lampu senter kecil yang kubawa hanya bisa menerangi jarak beberapa meter di depanku. Semakin jauh masuk, semakin sunyi. Bahkan suara jangkrik pun seolah hilang ditelan keheningan.
 
Tiba-tiba, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di antara deretan makam tua, berdiri sebuah gubuk kayu kecil. Asap tipis keluar dari lubang di atapnya, dan cahaya lilin temaram terlihat dari balik jendela kertas yang robek. Padahal aku sudah lewat sini ratusan kali, tidak pernah ada gubuk sama sekali.
 
Pintu gubuk itu terbuka perlahan. Seorang nenek tua berdiri di ambang pintu, memakai daster lusuh berwarna pudar. Wajahnya keriput sekali, tapi matanya menatapku lembut.
 
"Nak... masuklah sebentar. Di luar dingin sekali," panggilnya dengan suara parau namun ramah.
 
Rasa penasaran dan sedikit kedinginan membuatku melangkah mendekat. "Nenek tinggal sendirian di sini?" tanyaku saat sudah masuk ke dalam. Ruangan itu sederhana, hanya ada satu meja kayu, dua kursi, dan sebuah cermin besar yang tertutup kain putih di sudut ruangan.
 
"Aku sudah di sini sangat lama, menunggu tamu," jawab nenek itu sambil menuangkan air hangat ke gelas. "Minumlah, biar hangat."
 
Saat tanganku hendak menyentuh gelas itu, tiba-tiba aku mendengar suara isak tangis pelan dari balik cermin yang tertutup kain. Aku menoleh kaget. "Siapa di belakang sana?"
 
Nenek itu tersenyum, tapi senyumnya terasa aneh. "Tidak ada apa-apa nak. Itu hanya angin."


Tapi instingku berteriak waspada. Perlahan aku berdiri, dan dengan cepat menarik kain putih yang menutupi cermin itu. Darahku seketika membeku. Di balik cermin itu bukan pantulanku, melainkan pemandangan yang mengerikan: di sana terlihat diriku sendiri sedang terbaring tak bergerak di pinggir jalan, tidak jauh dari gubuk ini. Tubuhku penuh luka, dan di sekelilingku berdiri sosok-sosok tak berwajah yang menunggu.
 
Aku menoleh ke arah nenek itu. Wajahnya sudah berubah total. Kulitnya membusuk, matanya melotot kosong, dan senyumnya melengkung sampai ke telinga.
 
"Kamu kira kamu sudah masuk ke gubukku?" suaranya berubah menjadi gemuruh seram. "Sejak kamu menginjak tanah di depan makam terakhir tadi... kamu sudah tidak ada di dunia orang hidup. Ini tempat persinggahan arwa yang belum tenang. Dan sekarang giliranmu tinggal di sini menggantikan aku."
 
Aku berusaha lari ke pintu, tapi pintu itu sudah menghilang. Dinding gubuk berubah menjadi tanah basah dan akar pohon yang melilit tubuhku erat. Aku berteriak sekuat tenaga, tapi suaraku tidak keluar sama sekali.
 
Keesokan harinya, warga desa menemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan dekat kuburan. Menurut polisi, aku kecelakaan dan meninggal seketika. Tapi sampai sekarang, siapa pun yang lewat jalan itu larut malam, sering melihat gubuk kayu kecil berdiri di sana. Dan di ambang pintu, berdiri sosok pemuda yang memakai seragam sekolah, menatap siapa saja yang lewat sambil melambaikan tangan meminta mereka masuk.
 
Itu aku. Aku masih menunggu tamu yang mau menggantikan tempatku.

No comments